Si Joko Bodo

Dahulu kala, tersebutlah seorang santri yang terhitung bodoh sekali. Dalam lingkungan pesantern dia terkenal sangat bebal bin blo’on. Oleh karena itu, rekan dan sahabatnya memberi parapan (julukan) Joko Bodo alias pemuda bego. Apa saja yang dipelajari tak satu pun nyantel (meresap) dalam pikiran dan hatinya. Semua ilmu yang didapat hanya masuk telinga kiri, langsung keluar ke telinga kanan, tak ada yang tersisa, ngendon dalam benaknya. Persis seperti air yang tertuang dia atas daun talas, ngglontor, ngalis, kalis tak meninggalkan bekas sama sekali apalagi merembes meresap sampai pori-pori. Dapat dipahami jika Joko Bodo merasa minder dan malu hati.

Teman-teman sejawatnya dan atau seangkatnya, rata-rata sudah menamatkan beberapa kitab. Sementara joko Bodo belum satu pun kitab dapat dipahaminya, apatah lagi menyelesaikannya. Dapat dipahami jika pak kyia merasa tak sabar untuk mengajari, dan si Joko Bodo pun merasa kian frustasi. Akhirnya, suatu hari, batas kesabaran si Joko Bodo mencapai titik kulminasi. Ia putus semangat, oleh karena itu segera pamit pergi kepada sang kyia.

Apa yang dituju di Joko Bodo bukanlah pulang kampung, sebab ia malu hati karena gagal dalam pelajaran. Ia melangkah tak tentu arah, sambil dalam hati bertanya kepada Ilahi, “Duh Gusti, kenapa otakku sebebal ini?” Dalam dada ia selalu mengevaluasi diri, “Apa gerangan penyebab kebodohan diriku ini?”

Telah berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan si Joko Bodo mbambung (menggelandang), melangkah kaki tanpa arah dan tujuan, sambil dalam hati bertanya-tanya tentang segala kebebalan otak dan pikirannya. Wajah dan penampilannya terlihat kumul-kumul (kucel, kummel) persis seperti pengemis pinggir jalan.

Suatu hari, kakinya melangkah memasuki hutan lebat yang sunyi. Tiba-tiba guntur bergelegar, hujan turun lebat hebat, angin kencang menerpa pepohonan. Buru-buru Joko Bodo mencari tempat berteduh. Akhirnya, dijumpailah sebuah goa , yang langsung saja Joko Bodo masuk ke dalamnya. Goa itu cukup lebar dan dalam, bahkan ketika duduk di dalamnya, suara hujan dan angin dapat teredam. Jadilah, yang tersisa hanya sebuah keheningan. Sunyi, sepi, nyenyet . Joko Bodo duduk terpekur, diam, kelam, beku. Ia menggigil, menahan suasana gua yang lembab, dingin cenderung beku. Pikirannya tetap menerawang, memikirkan segala penyebab kebodohan dan kebebalan otaknya.

Saat itulah, telinganya menangkap suara berulang-ulang yang bernuansa dingin, lembut tapi indah, kelam nyaris tak terdengar. Ceplak, ceplung …ceplak, ceplung…ceplak, ceplung.” Demikian seterusnya. Joko Bodo segera mengangkat muka. Matanya menyapu ke segala penjuru gua, mencari arah suara. Akhirnya, matanya tertumbuk pada asal suara, yakni : air, dari langit-langit gua, yang menetes, tetes demi tetes, jatuh menimpa watu ireng (batu hitam) di hadapannya. Ia segera mendekati tetesan air pada batu cadas tadi. Diamatinya secara cermat proses tetesan air pada batu keras bak cadas, yang mampu menimbulkan bunyi-bunyi halus namun indah, sejuk terdengar di telinga. Terkadang ia mendongak ke atas melihat asal tetesan air, berikutnya menunduk memperhatikan batu hitam yang terselubung akbibat berulangkali ditimpa tetesan air dari atap goa. Perbuatan itu dilakukan berulang kali. Akhirnya, Joko Bodo seperi mendapat ilham untuk berkonklusi, “lubang di batu ini pasti terjadi akibat air yang menetes berulangkali, yang meski jatuh dalam tetesan kecil tapi kontinyu, otakku pun dapat menangkap ilmu yang meski sedikit tapi juga harus kontinyu,” demikian lanjut pemikiran si Joko Bodo tadi.

Joko Bodo terperangah oleh pikirannya sendiri, yang muncul dari ide dan krenteging hati, sehingga muncul keinginan segera nyantri kembali. Dengan kesadaran itu, Joko Bodo ba k baru lahir, kembali nyantri dengan berbekal sebuah semangat dan keyakinan yang tinggi. Ternyata, dengan berbekal dengan keyakinan dan kesadaran yang sangat kuat, Joko Bodo justru tampil menjadi santri yang sangat mumpuni (ahli). Segala ilmu segera diserapnya, dan segala pengetahuan berhasil direguknya. Memang, keberhasilan selalu dimulai dari sebuah keyakinan.

Namun , perubahan otak Joko Bodo bisa menjadi encer oleh teman dan sahabatnya lebih dilihat sebagai ketiban ilmu laduni, sehingga dapat weruh sak durunge winarah, tahu sebelum melihat, belajar dan seterusnya. Semua kawruh (pengetahuan) dapat cepat merasuk otaknya, dan semua ilmu berhasil meresap dalam nurani kalbunya. Ia tampil sebagai santri linuwih dan akhirnya berhasil menjadi kyia adiluhung melampaui teman-teman yang smeua mengejeknya.

Namun, Joko Bodo yang disebut-sebut ketiban ilmu laduni yang kabarnya milik Nabi Khidir tak lantas tinggi hati. Dia sadar bahwa Qudrat Iradat Ilahi yang mengaur hidup ini. Dia dapat mencabut secara gampang segala hikmah dalam hati, sehingga otak menjadi bebal. Namun, dia pula dengan mudah memberi hikmah pengetahuan kepada yang dikehendakinya, sehingg semua ilmu gampang nyantel dalam memori.

Aku tak tahu, apakah kisah yang didongengkan diatas ini riil alias banar-benar terjadi. Aku tak mau terlalu memikirkan hal itu. Yang penting bagiku, adalah substansi hikmah ajarannya yang mengajak kita optimis dalam meniti hidup dan kehidupan, serta sabar dalam mempelajari segala persoalan.

Explore posts in the same categories: Humor

Comment: