Ada Doa 1

Malam sudah larut. Dinihari sudah hampir. Angin dingin sahara berhembus dalam kesepian. Bukit-bukit batu, rumah-rumah tanah, pepohonan semua tak bergerak; berdiri kaku seperti rangkaian silhuet. Tapi di tengah Masjidil Haram, seorang pemuda berjalan memutari Ka’bah. Usai thawaf, ia berdiri di pintu Ka’bah sambil bergantung pada tirainya. Matanya menatap langit yang sunyi. Tak seorang pun berada di situ, kecuali Thawus Al-Yamani, yang menceritakan peristiwa itu kepada kita. Thawus pemuda itu merintih:

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam

Semua mata makhluk-Mu telah tertidur

Tapi pintu-Mu terbuka lebar

Buat pemohon kasih-Mu

Aku datang menghadap-Mu

Memohon ampunan-Mu

Kasihi daku

Pelihatkan wajahmu padaku wajah kakekku Muhammad saw

Pada mahkamah hari kiamat

Demi kemuliaan dan kebesaran-Mu

Maksiatku tidaklah untuk menentamg-Mu

Kala kulakukan Maksiat

Kulakukan bukan karena meragukan-Mu

Bukan karena mengabaikan siksa-Mu

Bukan karena menentang hukum-Mu

Kulakukan karena pengaruh hawa nafsuku

Dan karena kaulurkan tirai untuk menutupi aibku

Kini siapakah yang akan menyelamatkan aku

Dari azab-Mu

Kepada tali siapa aku harus bergantung

Kalau kau putuskan tali-mu

Malang nian daku kelak

Ketika bersimpuh dihadapan-Mu

Kala si ringan dipanggil : Jalanlah

Kala si berat di panggil ; berangkatlah

Aku tak tahu

Apakah aku berjalan dengan dengan si ringan

Atau berangkat dengan si berat.

Duhai celakalah aku

Bertambah umurku dan bertumpuk dosaku

Tak sempat aku bertobat kepada-Mu

Sekarang aku malu menghadap Tuhanku

Akankah Kau bakar diriku dengan api-Mu

Wahai tujuan segala kedambaan

Lalum kenaba harapku kemana cintaku

Aku temui-Mu

Dengan memikul amal buruk dan hina

Di antara segenap makhluk-Mu

Tak ada orang sejahat aku

Mahasuci Engkau

Engkau akan dilawan seakan-akan engkau tiada

Engkau selalu pemurah

Seakan-akan Engkau tak pernah dilawan

Engkau curahkan kasihmu pada makhluk-Mu

Seakan-akan engkau memerlukan mereka

Padahal Engkau, duhai junjunganku

Tak memerlukan semua itu

Kemudian ia merebahkan diri bersujud. Thawus bercerita: Aku dekati dia. Aku angkat kepalanya dan kuletakkan pada pangkuanku. Aku menangis samapi airmataku membasahi pipinya. Ia bangun dan berkata, “Siapa yang mengganggu dzikirku?” Aku berkata, “Aku Thawus, wahai putra Rasul Allah. Untuk apa segala rintihan ini? Kamilah yang seharusnya berbuat seperti ini, karena hidup kami bergelimang dosa. Sedangkan ayahmu Husain bin Ali, ibumu Fathimah Az-Zahra, dan kakekmu Rasulullah saw.”

Ia memandangku sesaat, “Keliru kau Thawus. Jangan sebut-sebut perihal ayahku, ibuku dan kakekku. Allah menciptakan surga bagi yang menaati-Nya dan berbuat baik, walaupun ia saya dari Hibsyi. Ia menciptakan neraka buat yang melawan-Nya walaupun ia bangsawan Quraisyi. Tidakkah engkau dengar firman Allah – Ketika sangkakala di tiup, tidaklah ada hubungan lagi di antara mereka hari itu dan tidak saling meminta tolong. Demi Allah esok tidak ada yang bermanfaat selain amal shaleh yang telah engkau lakukan.”

Explore posts in the same categories: Doa

One Comment on “Ada Doa 1”

  1. phiithii Says:

    weeeezzzz………….

    Huhuhuhuh^_^

    Zan_Dien

    mnach traktiran na??????????????


Comment: